Minggu, 15 Juni 2014

Bagaimana Bisa Ada Pelangi Setelah Hujan Reda?

     Pelangi adalah salah satu fenomena optik yang terjadi secara alamiah dalam atmosfir bumi. Dalam fisika, warna-warna lazim diidentifikasikan dari panjang gelombang. Misalnya, warna merah memiliki panjang gelombang sekitar 625 – 740 nm, dan biru sekitar 435 – 500 nm. Kumpulan warna-warna yang dinyatakan dalam panjang gelombang (biasa disimbolkan dengan λ) ini disebut spektrum warna. Warna-warna ini adalah komponen dari cahaya putih yang disebut cahaya tampak (visible light) atau gelombang tampak. Komponen lainnya adalah cahaya yang tidak tampak (invisible light), seperti inframerah (di sebelah kanan warna merah) dan ultraviolet (di sebelah kiri jingga). Sinar putih yang biasa kita lihat (disebut juga cahaya tampak atau visible light) terdiri dari semua komponen warna dalam spektrum di atas – tentu saja ada komponen lain yang tidak terlihat, disebut invisible light.
      Alat paling sederhana yang sering dipakai untuk menguraikan warna putih adalah prisma kaca. Sebuah prisma kaca menguraikan cahaya putih yang datang menjadi komponen-komponen cahayanya. Di alam ini tidak hanya prisma yang bisa menguraikan cahaya. Selain itu. tetesan air dari air hujan adalah salah satu contoh benda yang tersedia di alam yang bisa menguraikan cahaya putih. Ketika seberkas cahaya putih mengenai setetes air, tetesan air ini berprilaku seperti prisma. Dia menguraikan sinar putih tadi sehingga terciptalah warna-warna pelangi. Setetes air berprilaku seperti prisma ketika menerima seberkas cahaya putih. Cahaya tersebut sebagian dipantulkan ke arah pengamat, sebagian lagi diteruskan. Warna dalam pelangi seperti blok-blok yang lebar dikarenakan kita hanya melihat satu warna untuk satu tetesan air. Cahaya matahari yang diuraikan oleh tetesan air A hanya sampai ke mata kita pada panjang gelombang warna merah. Sementara itu, tetesan air B memberikan panjang gelombang warna ungu. Tetesan-tetesan air di antaranya memberikan masing-masing satu panjang gelombang pada mata kita. Sehingga pada akhirnya si pengamat melihat pelangi dengan warna yang lengkap.
     Kita hanya bisa melihat pelangi maksimal setengah lingkaran. Untuk melihat pelangi utuh satu lingkaran, maka kita harus berdiri di tempat yang lebih tinggi.
Ilustrasi pada gambar diatas memperlihatkan bahwa pelangi berbentuk lingkaran. Ini adalah benar bahwa pelangi berbentuk lingkaran, bukan parabola seperti anggapan beberapa orang. Di tanah, kita hanya melihat maksimal pelangi setengah lingkaran. Kalau kita berdiri di atas hujan, misalnya di pesawat terbang, maka kita bisa melihat pelangi satu lingkaran utuh. Ini semua disebabkan oleh geometri optik dalam proses penguraian warna. Dengan geometri optik ini juga kita bisa menjelaskan garis lurus yang melewati mata kita dan matahari juga melewati titik pusat lingkaran pelangi. Karena pelangi tercipta melibatkan jarak pengamat dengan tetesan air, maka pelangi selalu bergerak mengikuti pergerakan pengamat. Ini membuat jarak kita dengan pelangi konstan (sama), dengan kata lain kita tidak pernah bisa mendekati pelangi.

     Pelangi terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfir. Ketika sinar matahari melalui tetesan air, cahaya tersebut dibengkokkan sedemikian rupa sehingga membuat warna-warna yang ada pada cahaya tersebut terpisah. Tiap warna dibelokkan pada sudut yang berbeda, dan warna merah adalah warna yang paling terakhir dibengkokkan, sedangkan ungu adalah yang paling pertama.
berawal dari cahaya matahari, cahaya matahari adalah cahaya yang terdiri dari beberapa warna atau sering disebut polikromatik. Cahaya yang bisa ditangkap oleh mata manusia dengan tanpa alat bantu hanya 7 warna yaitu warna merah, jingga, kuning, nila, dan ungu. Warna-warna tersebut disebut juga dengan cahaya tampak.
     Dalam pelajaran Fisika yang telah diterangkan oleh guruku, cahaya tampak termasuk gelombang elektromagnetik yang terjadi akibat adanya medan magnet dan medan listrik. Panjang gelombang cahaya tampak berbeda-beda mulai dari 4.000 Ã… sampai 7.000 Ã… dan juga memiliki frekuensi 4,3 x 1014 Hz sampai 7,5 x 1014 Hz.
      Dalam cahaya merah dan ungu mengapa selalu ada diatas dan dibawah pada pelanggi?
      Ini disebabkan karena cahaya merah adalah bagian dari Spektrum cahaya tampak yang memiliki frekuensi paling rendah atau panjang gelombang paling panjang bila dibandingkan dengan cahaya tampak lainnya. Dan cahaya ungu memiliki frekuensi paling tinggi dan panjang gelombang paling pendek. Sehingga antara warna merah dan ungu tidak saling bertemu, warna merah berada di paling ujung pada pelangi dan warna ungu berada di paling bawah pada pelangi.
     Pelangi terjadi apabila cahaya mengalami pembiasan ketika cahaya matahari terkena air hujan. Pelangi hanya dapat dilihat pada saat ada hujan disertai dengan cahaya matahari. Posisi pengamat juga menentukan, yaitu diantara hujan dan sinar matahari, dan sinar matahari berada di belakang si pengamat. Sehingga terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi. Akibatnya terbentuklah pelangi dari hasil pembiasan dan posisi pengamat tadi.

Bagaimana bisa terjadi hujan?

Proses Terjadinya Hujan

Meski dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari fenomena hujan, tetapi mungkin diantara kita masih ada yang belum mengetahui bagaimana siklus atau proses terjadinya hujan tersebut. Untuk mempelajari hal tersebut, maka akan diuraikan secara jelas kepada Anda berikut ini.


siklus proses terjadinya hujan

Hujan terjadi akibat dipengaruhi oleh konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Konveksi merupakan sebuah proses pemindahan panas oleh gerak massa suatu fluida dari suatu daerah ke daerah yang lainnya. Air yang terdiri dari air laut, air sungai, air limbah dan sebagainya pada umumnya akan mengalami proses penguapan atau evaporsi akibat dari panas sinar matahari. Uap air yang melayang ke udara akhirnya akan terus bergerak menuju langit yang tinggi, dan akhirnya menjadi kumpulan uap air yang sangat besar.

Uap air yang telah berkumpul di langit yang tinggi kemudian akan mengalami proses pemadatan atau secara ilmiah disebut juga dengan kondensasi, sehingga akan membentuk awan.

Akibat terbawa angin yang bergerak, awan-awan tersebut saling bertemu dan membesar dan kemudian menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air.

Karena terlalu berat dan tidak mampu lagi ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi, proses ini disebut juga proses presipitasi. Karena semakin rendah, mengakibatkan suhu semakin naik maka es/salju akan mencair, namun jika suhunya sangat rendah, maka akan turun tetap menjadi salju.

hewan-hewan endemik Indonesia



Hewan Endemik Indonesia


Endemisme merupakan gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik, spesies hewan harus ditemukan hanya di suatu tempat tertentu dan tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga hewan yang masuk daftar endemik ini hanya dipunyai Indonesia saja.
Indonesia adalah negara dengan endemisme (tingkat endemik) yang tinggi. Diperkirakan terdapat lebih dari 165 jenis mamalia, 397 jenis burung, lebih dari 150 reptilia, dan lebih dari 100 spesies ampibi yang tercatat endemik di Indonesia.
Fauna atau binatang endemik adalah gejala yang dialami oleh binatang (fauna) untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik suatu satwa harus ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain.
Hewan endemik Indonesia adalah hewan-hewan yang hanya ditemukan di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan tidak sedikit satwa endemik ini hanya ditemukan di satu pulau atau wilayah tertentu di Indonesia saja. Contoh spesies endemik Indonesia adalah Anoa yang hanya bisa ditemukan sebagai spesies alami di Sulawesi saja. Juga Rusa Bawean yang keberadaannya secara alami hanya dijumpai di pulau Bawean, Jawa Timur, Indonesia.
Berikut ini disajikan daftar tentang sebagian spesies hewan endemik di Indonesia beserta wilayah endemisnya.
  1. Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) ; endemik di Sulawesi 
  2. Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) ; endemik di Sulawesi
  3. Babirusa (Babyrousa babyrussa) ; endemik di Sulawesi
  4. Badak Bercula Batu atau Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) ; endemik di Jawa
  5. Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) ; endemik di Sumatera
  6. Bajing Palawan (Sundasciurus juvencus) ; endemik di Bali dan Sumatera
  7. Bajing Tanah (Lariscus hosei) ; endemik di Kalimantan
  8. Bajing Telinga Botol (Callosciurrus adamsi) ; endemik di Kalimantan
  9. Banteng (Bos javanicus) ; endemik di Jawa
  10. Bekantan atau Kera Hidung Panjang (Nasalis larvatus) ; endemik di Kalimantan
  11. Beruk Mentawai (Macaca pagensis) ; endemik di Kepulauan Mentawai
  12. Burung Anis Sulawesi (Cataponera turdoides) ; endemik di Sulawesi
  13. Burung Beo Nias (Gracula religiosa robusta) ; endemik di Pulau Nias
  14. Burung Elang Flores (Spizaetus floris) ; endemik di Flores
  15. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ; endemik di Jawa
  16. Burung Cenderawasih Merah (Paradisae rubra) ; endemik di Papua
  17. Burung Cenderawasih Kuning Kecil (Paradisae minor) ; endemik di Papua
  18. Burung Cenderawasih Kuning Besar (Paradisae apoda) ; endemik di Papua
  19. Burung Mambruk Ubiaat (Goura cristata) ; endemik di Papua
  20. Burung Mambruk Victoria (Goura victoria) ; endemik di Papua
  21. Burung Mambruk Selatan (Goura scheepmakeri) ; endemik di Papua
  22. Burung Celepuk Siau (Otus siaoensis) ; endemik di Pulau Siau, Sulawesi Utara
  23. Burung Cerek Jawa (Charadrius javanicus) ; endemik di Jawa
  24. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) ; endemik di Sulawesi
  25. Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) ; endemik di Kalimantan
  26. Burung Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri) ; endemik di Kalimantan
  27. Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus) ; endemik di Jawa
  28. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ; endemik di Sumatera
  29. Hiu Karpet Berbintik (Hemiscyllium freycineti) ; endemik di Papua
  30. Ikan Arwana Emas (Scleropages formosus) ; endemik di Sumatera
  31. Jalak Bali (Leucopsar rothschild) ; endemik di Bali
  32. Kadal Coklat Kalimantan (Lanthanotus borneensis) ; endemik di Kalimantan
  33. Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis) ; endemik di Sumatera
  34. Kancil Jawa (Tragulus javanicus) ; endemik di Jawa
  35. Kangguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus) ; endemik di Papua
  36. Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus) ; endemik di Papua
  37. Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) ; endemik Papua
  38. Katak Tanpa Paru-paru (Barbourula kalimantanensis) ; endemik di Kalimantan
  39. Kelelawar Berjenggot Coklat dan Ekor Selubung (Taphozous achates) ; endemik di Nusa Penida
  40. Kelinci Belang Sumatera (Nesolagus netscheri) ; endemik di Sumatera
  41. Kera Belanda (Nasalis larvatus) ; endemik di Kalimantan
  42. Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra) ; endemik di Sulawesi Utara
  43. Kodok Darah (Leptophryne cruentata) ; endemik di Jawa Barat
  44. Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni) ; endemik di Jawa Tengah
  45. Komodo (Varanus komodoensis) ; endemik di Nusa Tenggara Timur (P. Komodo)
  46. Kucing Bakau (Prionailurus bengalensis javanensis) ; endemik di Jawa
  47. Kucing Merah (Felis badia) ; endemik di Kalimantan
  48. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) ; endemik Jawa
  49. Kura-kura Berleher Ular (Chelodina mccordi) ; endemik di Pulau Rote NTT
  50. Kus-kus Sulawesi (Strigocuscus celebensis) ; endemik di Sulawesi
  51. Landak Jawa (Hystrix javanica) ; endemik di Jawa
  52. Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) ; endemik di Sumatera
  53. Landak Kalimatan (Thecurus crassispinis) ; endemik di Kalimantan
  54. Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) ; endemik di Kalimantan
  55. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) ; endemik di Jawa
  56. Lutung Merah (Presbytis rubicunda) ; endemik di Kalimantan
  57. Macan Dahan (Neofelis diardi) ; endemik di Sumatera dan Kalimantan
  58. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus) ; endemik di Jawa
  59. Monyet Ekor Babi (Simias concolor) ; endemik di Kepulauan Mentawai
  60. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) ; endemik di Sulawesi
  61. Orangutan Sumatera (Pongo abelli) ; endemik di Sumatera
  62. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) ; endemik di Kalimantan
  63. Owa Jawa (Hylobates moloch) ; endemik di Jawa
  64. Owa-owa (Hyllobates muelleri) ; endemik di Kalimantan
  65. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) ; endemik di Jawa
  66. Rusa Bawean (Axis kuhlii) ; endemik di Pulau Bawean
  67. Rusa Timor (Cervus timorensis) ; endemik di Bali
  68. Siamang (Hylobates syndactylus) ; endemik di Sumatera
  69. Surili (Presbytis comata) ; endemik di Jawa
  70. Tarsius (Tarsius bancanus) ; endemik di Sulawesi Utara 
  71. Kera Belanda (Nasalis larvatus) ; endemik di Kalimantan 
  72. Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) ; endemik di Kalimantan