Tampilkan postingan dengan label Indonesia Tanah Airku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Tanah Airku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

hewan-hewan endemik Indonesia



Hewan Endemik Indonesia


Endemisme merupakan gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik, spesies hewan harus ditemukan hanya di suatu tempat tertentu dan tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga hewan yang masuk daftar endemik ini hanya dipunyai Indonesia saja.
Indonesia adalah negara dengan endemisme (tingkat endemik) yang tinggi. Diperkirakan terdapat lebih dari 165 jenis mamalia, 397 jenis burung, lebih dari 150 reptilia, dan lebih dari 100 spesies ampibi yang tercatat endemik di Indonesia.
Fauna atau binatang endemik adalah gejala yang dialami oleh binatang (fauna) untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik suatu satwa harus ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain.
Hewan endemik Indonesia adalah hewan-hewan yang hanya ditemukan di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan tidak sedikit satwa endemik ini hanya ditemukan di satu pulau atau wilayah tertentu di Indonesia saja. Contoh spesies endemik Indonesia adalah Anoa yang hanya bisa ditemukan sebagai spesies alami di Sulawesi saja. Juga Rusa Bawean yang keberadaannya secara alami hanya dijumpai di pulau Bawean, Jawa Timur, Indonesia.
Berikut ini disajikan daftar tentang sebagian spesies hewan endemik di Indonesia beserta wilayah endemisnya.
  1. Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) ; endemik di Sulawesi 
  2. Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) ; endemik di Sulawesi
  3. Babirusa (Babyrousa babyrussa) ; endemik di Sulawesi
  4. Badak Bercula Batu atau Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) ; endemik di Jawa
  5. Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) ; endemik di Sumatera
  6. Bajing Palawan (Sundasciurus juvencus) ; endemik di Bali dan Sumatera
  7. Bajing Tanah (Lariscus hosei) ; endemik di Kalimantan
  8. Bajing Telinga Botol (Callosciurrus adamsi) ; endemik di Kalimantan
  9. Banteng (Bos javanicus) ; endemik di Jawa
  10. Bekantan atau Kera Hidung Panjang (Nasalis larvatus) ; endemik di Kalimantan
  11. Beruk Mentawai (Macaca pagensis) ; endemik di Kepulauan Mentawai
  12. Burung Anis Sulawesi (Cataponera turdoides) ; endemik di Sulawesi
  13. Burung Beo Nias (Gracula religiosa robusta) ; endemik di Pulau Nias
  14. Burung Elang Flores (Spizaetus floris) ; endemik di Flores
  15. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ; endemik di Jawa
  16. Burung Cenderawasih Merah (Paradisae rubra) ; endemik di Papua
  17. Burung Cenderawasih Kuning Kecil (Paradisae minor) ; endemik di Papua
  18. Burung Cenderawasih Kuning Besar (Paradisae apoda) ; endemik di Papua
  19. Burung Mambruk Ubiaat (Goura cristata) ; endemik di Papua
  20. Burung Mambruk Victoria (Goura victoria) ; endemik di Papua
  21. Burung Mambruk Selatan (Goura scheepmakeri) ; endemik di Papua
  22. Burung Celepuk Siau (Otus siaoensis) ; endemik di Pulau Siau, Sulawesi Utara
  23. Burung Cerek Jawa (Charadrius javanicus) ; endemik di Jawa
  24. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) ; endemik di Sulawesi
  25. Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) ; endemik di Kalimantan
  26. Burung Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri) ; endemik di Kalimantan
  27. Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus) ; endemik di Jawa
  28. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ; endemik di Sumatera
  29. Hiu Karpet Berbintik (Hemiscyllium freycineti) ; endemik di Papua
  30. Ikan Arwana Emas (Scleropages formosus) ; endemik di Sumatera
  31. Jalak Bali (Leucopsar rothschild) ; endemik di Bali
  32. Kadal Coklat Kalimantan (Lanthanotus borneensis) ; endemik di Kalimantan
  33. Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis) ; endemik di Sumatera
  34. Kancil Jawa (Tragulus javanicus) ; endemik di Jawa
  35. Kangguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus) ; endemik di Papua
  36. Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus) ; endemik di Papua
  37. Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) ; endemik Papua
  38. Katak Tanpa Paru-paru (Barbourula kalimantanensis) ; endemik di Kalimantan
  39. Kelelawar Berjenggot Coklat dan Ekor Selubung (Taphozous achates) ; endemik di Nusa Penida
  40. Kelinci Belang Sumatera (Nesolagus netscheri) ; endemik di Sumatera
  41. Kera Belanda (Nasalis larvatus) ; endemik di Kalimantan
  42. Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra) ; endemik di Sulawesi Utara
  43. Kodok Darah (Leptophryne cruentata) ; endemik di Jawa Barat
  44. Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni) ; endemik di Jawa Tengah
  45. Komodo (Varanus komodoensis) ; endemik di Nusa Tenggara Timur (P. Komodo)
  46. Kucing Bakau (Prionailurus bengalensis javanensis) ; endemik di Jawa
  47. Kucing Merah (Felis badia) ; endemik di Kalimantan
  48. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) ; endemik Jawa
  49. Kura-kura Berleher Ular (Chelodina mccordi) ; endemik di Pulau Rote NTT
  50. Kus-kus Sulawesi (Strigocuscus celebensis) ; endemik di Sulawesi
  51. Landak Jawa (Hystrix javanica) ; endemik di Jawa
  52. Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) ; endemik di Sumatera
  53. Landak Kalimatan (Thecurus crassispinis) ; endemik di Kalimantan
  54. Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) ; endemik di Kalimantan
  55. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) ; endemik di Jawa
  56. Lutung Merah (Presbytis rubicunda) ; endemik di Kalimantan
  57. Macan Dahan (Neofelis diardi) ; endemik di Sumatera dan Kalimantan
  58. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus) ; endemik di Jawa
  59. Monyet Ekor Babi (Simias concolor) ; endemik di Kepulauan Mentawai
  60. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) ; endemik di Sulawesi
  61. Orangutan Sumatera (Pongo abelli) ; endemik di Sumatera
  62. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) ; endemik di Kalimantan
  63. Owa Jawa (Hylobates moloch) ; endemik di Jawa
  64. Owa-owa (Hyllobates muelleri) ; endemik di Kalimantan
  65. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) ; endemik di Jawa
  66. Rusa Bawean (Axis kuhlii) ; endemik di Pulau Bawean
  67. Rusa Timor (Cervus timorensis) ; endemik di Bali
  68. Siamang (Hylobates syndactylus) ; endemik di Sumatera
  69. Surili (Presbytis comata) ; endemik di Jawa
  70. Tarsius (Tarsius bancanus) ; endemik di Sulawesi Utara 
  71. Kera Belanda (Nasalis larvatus) ; endemik di Kalimantan 
  72. Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) ; endemik di Kalimantan

Arti lambang burung Garuda



Arti dan makna lambang Negara Indonesia “GARUDA PANCASILA”
Burung garuda berwarna kuning emas mengepakkan sayapnya dengan gagah menoleh ke kanan. Dalam tubuhnya mengemas kelima dasar dari Pancasila.  Di tengah tameng yang bermakna benteng ketahanan filosofis, terbentang garis tebal yang bermakna garis khatulistiwa, yang merupakan lambang geografis lokasi Indonesia.  Kedua kakinya yang kokoh kekar mencengkeram kuat semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti “Berbeda-beda, Namun Tetap Satu“.
Secara tegas bangsa Indonesia telah memilih burung garuda sebagai lambang kebangsaannya yang besar, karena garuda adalah burung yang penuh percaya diri, energik dan dinamis.  Ia terbang menguasai angkasa dan memantau keadaan sendiri, tak suka bergantung pada yang lain.  Garuda yang merupakan lambang pemberani dalam mempertahankan wilayah, tetapi dia pun akan menghormati wilayah milik yang lain sekalipun wilayah itu milik burung yang lebih kecil.  Warna kuning emas melambangkan bangsa yang besar dan berjiwa priyagung sejati.
Burung garuda yang juga punya sifat sangat setia pada kewajiban sesuai dengan budaya bangsa yang dihayati secara turun temurun.  Burung garuda pun pantang mundur dan pantang menyerah.  Legenda semacam ini juga diabadikan sangat indah oleh nenek moyang bangsa Indonesia pada candi dan di berbagai prasasti sejak abad ke-15.
Keberhasilan bangsa Indonesia dalam meraih cita-citanya menjadi negara yang merdeka bersatu dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945, tertera lengkap dalam lambang garuda.  17 helai bulu pada sayapnya yang membentang gagah melambangkan tanggal 17 hari kemerdekaan Indonesia, 8 helai bulu pada ekornya melambangkan bulan Agustus, dan ke-45 helai bulu pada lehernya melambangkan tahun 1945 adalah tahun kemerdekaan Indonesia.  Semua itu memuat kemasan historis bangsa Indonesia sebagai titik puncak dari segala perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaannya yang panjang.  Dengan demikian lambang burung garuda itu semakin gagah mengemas lengkap empat arti visual sekaligus, yaitu makna filosofis, geografis, sosiologis, dan historis.
Burung garuda merupakan mitos dalam mitologi Hindu dan Budha. Garuda dalam mitos digambarkan sebagai makhluk separuh burung (sayap, paruh, cakar) dan separuh manusia (tangan dan kaki). Lambang garuda diambil dari penggambaran kendaraan Batara Wisnu yakni garudeya. Garudeya itu sendiri dapat kita temui pada salah satu pahatan di Candi Kidal yang terletak di Kabupaten Malang tepatnya: DesaRejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Garuda sebagai lambang negara menggambarkan kekuatan dan kekuasaan dan warna emas melambangkan kejayaan, karena peran garuda dalam cerita pewayangan Mahabharata dan Ramayana. Posisi kepala garuda menengok lurus ke kanan.
Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain:
  • Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17
  • Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8
  • Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19
  • Jumlah bulu di leher berjumlah 45
Ø  Perisai
Perisai merupakan lambang pertahanan negara Indonesia. Gambar perisai tersebut dibagi menjadi lima bagian: bagian latar belakang dibagi menjadi empat dengan warna merah putih berselang seling (warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia, merah berarti berani dan putih berarti suci), dan sebuah perisai kecil miniatur dari perisai yang besar berwarna hitam berada tepat di tengah-tengah. Garis lurus horizontal yang membagi perisai tersebut menggambarkan garis khatulistiwa yang tepat melintasi Indonesia di tengah-tengah.
Ø  Emblem
Setiap gambar emblem yang terdapat pada perisai berhubungan dengan simbol dari sila Pancasila.
Ø  Bintang Tunggal
Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa. Perisai hitam dengan sebuah bintang emas berkepala lima menggambarkan agama-agama besar di Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan juga ideologi sekuler sosialisme.
Ø  Rantai Emas
Sila ke-2: Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Rantai yang disusun atas gelang-gelang kecil ini menandakan hubungan manusia satu dengan yang lainnya yang saling membantu. Gelang yang lingkaran menggambarkan wanita, gelang yang persegi menggambarkan pria.
Ø  Pohon Beringin
Sila ke-3: Persatuan Indonesia. Pohon beringin (Ficus benjamina) adalah sebuah pohon Indonesia yang berakar tunjang – sebuah akar tunggal panjang yang menunjang pohon yang besar tersebut dengan bertumbuh sangat dalam ke dalam tanah. Ini menggambarkan kesatuan Indonesia. Pohon ini juga memiliki banyak akar yang menggelantung dari ranting-rantingnya. Hal ini menggambarkan Indonesia sebagai negara kesatuan namun memiliki berbagai akar budaya yang berbeda-beda.
Ø  Kepala Banteng
Sila ke-4: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Binatang banteng (Latin: Bos javanicus) atau lembu liar adalah binatang sosial, sama halnya dengan manusia cetusan Presiden Soekarno dimana pengambilan keputusan yang dilakukan bersama (musyawarah), gotong royong, dan kekeluargaan merupakan nilai-nilai khas bangsa Indonesia.
Ø  Padi Kapas
Sila ke-5: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas (yang menggambarkan sandang dan pangan) merupakan kebutuhan pokok setiap masyarakat Indonesia tanpa melihat status maupun kedudukannya. Hal ini menggambarkan persamaan sosial dimana tidak adanya kesenjangan sosial satu dengan yang lainnya, namun hal ini bukan berarti bahwa negara Indonesia memakai ideologi komunisme.
Ø  Motto
Pita yang dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kalimat bahasa Jawa Kuno karangan Mpu Tantular yang berarti “Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu” yang menggambarkan keadaan bangsa Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam suku, budaya, adat-istiadat, kepercayaan, namun tetap adalah satu bangsa, bahasa, dan tanah air.